Jika melihat perumahan di Indonesia pada era 1990-an dibandingkan dengan banyak hunian modern saat ini, terdapat perubahan yang cukup mudah dikenali. Rumah pada periode 1990 hingga 2000 banyak menggunakan bentuk atap yang terlihat jelas dari fasad, sementara rumah modern semakin sering...

Jika melihat perumahan di Indonesia pada era 1990-an dibandingkan dengan banyak hunian modern saat ini, terdapat perubahan yang cukup mudah dikenali. Rumah pada periode 1990 hingga 2000 banyak menggunakan bentuk atap yang terlihat jelas dari fasad, sementara rumah modern semakin sering menampilkan garis bangunan yang sederhana dengan atap datar, atap berkemiringan rendah, atau bentuk atap yang dibuat seolah menyatu dengan fasad.
Perubahan tersebut bukan berarti bentuk atap rumah era 90-an benar-benar hilang. Atap pelana dan limasan masih digunakan hingga sekarang. Namun, cara atap ditampilkan pada arsitektur rumah modern memang mengalami perubahan.
Penelitian mengenai karakteristik rumah tinggal di Indonesia periode 1990 hingga 2000 menunjukkan bahwa perkembangan desain hunian pada masa tersebut sangat dinamis. Penelitian yang menggunakan rumah-rumah yang dipublikasikan dalam majalah ASRI periode 1990 hingga 2000 juga menunjukkan bagaimana publikasi arsitektur turut memperkenalkan berbagai inspirasi desain kepada masyarakat.
Pada banyak hunian Indonesia yang dibangun pada periode tersebut, atap menjadi elemen visual yang cukup dominan. Bentuk pelana dan limasan banyak digunakan karena sesuai dengan konstruksi rumah yang berkembang pada saat itu.
Penelitian mengenai sistem atap di Surabaya mencatat bahwa sistem atap miring dengan kemiringan sekitar 30 hingga 45 derajat dan lebih masih banyak digunakan di Indonesia. Material penutup atap yang umum digunakan antara lain genteng tanah liat, genteng beton, dan genteng keramik. Penelitian tersebut juga mencatat bahwa pada dekade 1990-an, bangunan ruko mulai banyak menggunakan atap beton datar.
Artinya, bahkan pada era 90-an pun sebenarnya sudah terdapat variasi bentuk atap. Atap miring tidak menjadi satu-satunya pilihan, sementara atap datar juga mulai digunakan pada tipe bangunan tertentu.
Di sisi lain, perubahan bentuk atap juga dapat dipengaruhi oleh perkembangan gaya arsitektur. Studi mengenai arsitektur di Indonesia mencatat bahwa gaya Mediterania menjadi salah satu gaya yang berkembang pada akhir 1990-an.
Salah satu karakter yang mudah ditemukan pada desain rumah modern adalah penggunaan bentuk geometris yang sederhana. Atap tidak selalu menjadi elemen yang paling menonjol dari tampilan depan bangunan. Pada beberapa desain, struktur atap dibuat lebih rendah atau disembunyikan di balik parapet sehingga dari depan bangunan terlihat seperti memiliki massa berbentuk kotak.
Perubahan ini berkaitan dengan pendekatan arsitektur modern yang banyak menggunakan garis sederhana dan komposisi geometris. Dalam perkembangan desain rumah di Indonesia, bentuk atap datar dan atap berkemiringan rendah juga semakin sering digunakan pada hunian dengan konsep minimalis dan kontemporer.
Namun, tampilan yang terlihat datar tidak berarti permukaan atap benar-benar tanpa kemiringan. Sistem atap tetap membutuhkan pengaturan kemiringan dan drainase agar air hujan dapat dialirkan dengan baik. Pada desain atap datar, sistem drainase dan perlindungan terhadap kebocoran menjadi bagian penting dari detail konstruksi.
Atap memiliki fungsi teknis yang jauh lebih luas daripada sekadar membentuk tampilan rumah. Bentuk, kemiringan, material, struktur, sistem drainase, serta lapisan perlindungan terhadap panas dan air perlu dipertimbangkan sebagai satu kesatuan.
Dalam konteks iklim tropis Indonesia, air hujan menjadi salah satu faktor penting dalam perancangan atap. Bentuk atap dengan kemiringan tertentu memungkinkan air hujan mengalir lebih cepat, sementara overhang dapat membantu melindungi bagian bangunan dari paparan hujan dan matahari. Penelitian mengenai arsitektur tropis juga menunjukkan bahwa pengurangan volume atap dan overhang dapat memengaruhi kemampuan bangunan dalam mengendalikan panas dan memberikan perlindungan terhadap dinding.
Karena itu, bentuk atap yang terlihat sederhana dari luar tetap membutuhkan pertimbangan teknis di baliknya.
Tidak ada satu bentuk atap yang secara umum dapat disebut paling baik untuk semua rumah. Pemilihan bentuk atap perlu mempertimbangkan lokasi, iklim, fungsi bangunan, struktur, material, sistem drainase, kebutuhan ruang, serta konsep arsitektur yang digunakan.
Atap pelana atau limasan dapat tetap menjadi pilihan yang sesuai untuk kondisi tertentu. Sementara itu, atap datar atau atap berkemiringan rendah dapat digunakan ketika konsep desain dan kebutuhan bangunan mendukung penerapannya.
Perbedaan antara rumah era 90-an dan rumah modern lebih tepat dipahami sebagai bagian dari perkembangan desain bangunan. Jika dahulu atap sering menjadi elemen yang terlihat jelas dan membentuk siluet rumah, desain modern pada beberapa hunian justru membuat atap lebih menyatu dengan massa bangunan.
Perubahan bentuk atap rumah menunjukkan bahwa arsitektur terus berkembang mengikuti kebutuhan dan pendekatan desain pada setiap periode.
Rumah era 90-an banyak memperlihatkan bentuk atap sebagai bagian utama dari karakter bangunan. Sementara itu, rumah modern dapat menggunakan pendekatan yang lebih minimalis dengan menyederhanakan garis, massa, dan tampilan fasad.
Namun, di balik perubahan visual tersebut, prinsip dasarnya tetap sama. Atap harus mampu menjalankan fungsi bangunan yang dibutuhkan, termasuk mengelola air hujan, melindungi ruang di bawahnya, dan bekerja sebagai bagian dari sistem konstruksi secara keseluruhan.
Pada akhirnya, atap yang baik bukan hanya tentang bagaimana bentuknya terlihat dari depan, tetapi juga bagaimana sistem tersebut bekerja ketika bangunan digunakan setiap hari.