Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), cloud computing, dan layanan digital membuat kebutuhan terhadap pusat data meningkat dengan sangat cepat. Data center yang sebelumnya lebih banyak dipandang sebagai fasilitas pendukung teknologi informasi kini berkembang menjadi...

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), cloud computing, dan layanan digital membuat kebutuhan terhadap pusat data meningkat dengan sangat cepat. Data center yang sebelumnya lebih banyak dipandang sebagai fasilitas pendukung teknologi informasi kini berkembang menjadi salah satu jenis infrastruktur strategis dengan kebutuhan konstruksi yang semakin kompleks.
Perubahan tersebut mulai terlihat dari meningkatnya investasi perusahaan teknologi dalam pembangunan data center di berbagai negara. Salah satu contoh terbaru datang dari Google yang pada September 2026 mengumumkan investasi sedikitnya €13 miliar atau sekitar US$15,1 miliar untuk infrastruktur digital dan AI di Finlandia selama 2027 hingga 2028. Investasi tersebut mencakup data center dan infrastruktur pendukung di Hamina, Kajaani, Muhos, dan Vaala.
Skala investasi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan data center tidak lagi dapat dipandang sebagai proyek bangunan biasa. Di dalamnya terdapat kebutuhan terhadap struktur bangunan, sistem kelistrikan berkapasitas tinggi, sistem pendinginan, jaringan komunikasi, sistem proteksi kebakaran, keamanan, hingga infrastruktur energi yang mampu menjaga fasilitas tetap beroperasi selama 24 jam.
Dengan kata lain, pertumbuhan AI mulai mengubah cara proyek konstruksi direncanakan dan dilaksanakan.
Data center memiliki karakteristik yang berbeda dari gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, maupun fasilitas komersial biasa. Fungsi utama bangunan bukan hanya menyediakan ruang bagi manusia, tetapi menjaga agar ribuan bahkan jutaan perangkat komputasi dapat beroperasi secara stabil dalam waktu yang panjang.
Kebutuhan tersebut membuat aspek engineering menjadi sangat dominan sejak tahap awal proyek. Kapasitas struktur harus mempertimbangkan berat peralatan, kebutuhan ruang server, jalur kabel, sistem distribusi listrik, sistem pendinginan, serta kemungkinan ekspansi kapasitas di masa mendatang.
Sementara itu, sistem mekanikal dan elektrikal memiliki peran yang sangat besar. Server menghasilkan panas dalam jumlah tinggi sehingga sistem pendinginan harus dirancang secara presisi. Gangguan listrik dalam waktu singkat juga dapat menyebabkan gangguan terhadap layanan digital yang bergantung pada fasilitas tersebut.
Karena itu, pembangunan data center membutuhkan koordinasi yang jauh lebih ketat antara arsitektur, struktur, mechanical electrical plumbing atau MEP, sistem keamanan, fire protection, jaringan, hingga sistem energi.
Salah satu perubahan terbesar dalam proyek data center adalah tekanan terhadap waktu pembangunan. Perusahaan teknologi membutuhkan kapasitas komputasi baru secepat mungkin untuk memenuhi pertumbuhan AI dan layanan cloud.
Engineering News Record (ENR) melaporkan bahwa tekanan untuk menyelesaikan data center dan infrastruktur terkait dalam waktu yang semakin singkat telah mendorong kontraktor untuk memikirkan kembali metode project delivery dan penggunaan teknologi dalam proyek konstruksi.
Kondisi tersebut membuat pendekatan konstruksi konvensional mulai menghadapi tantangan. Pekerjaan yang membutuhkan banyak aktivitas di lokasi proyek dapat menjadi hambatan ketika target penyelesaian semakin agresif.
Inilah salah satu alasan mengapa prefabrikasi dan modular construction mulai mendapatkan perhatian lebih besar dalam pembangunan data center.
Salah satu perkembangan menarik datang dari Korea Selatan. Pada September 2026, LG Uplus bersama GS Engineering & Construction dan sejumlah mitra membentuk aliansi untuk mengembangkan model Prefabricated Modular Data Center atau PMDC yang ditujukan untuk fasilitas AI data center kelas 100 MW.
Konsepnya adalah memindahkan sebagian pekerjaan konstruksi dari lokasi proyek ke fasilitas manufaktur. Komponen tertentu seperti struktur, sistem kelistrikan, pendinginan, dan bagian pendukung lainnya dapat dipersiapkan terlebih dahulu dalam kondisi yang lebih terkontrol sebelum dikirim dan dirakit di lokasi.
Pendekatan ini berpotensi memperpendek waktu pekerjaan di lapangan sekaligus meningkatkan konsistensi kualitas. Pada proyek dengan kebutuhan kapasitas besar dan target penyelesaian yang ketat, pengurangan pekerjaan on site dapat memberikan keuntungan yang signifikan.
Namun, modularisasi juga membutuhkan perencanaan yang jauh lebih matang. Dimensi modul, jalur transportasi, metode pengangkatan, sambungan antar modul, toleransi struktur, utilitas, hingga urutan instalasi harus diperhitungkan sejak tahap desain.
Artinya, proyek dapat dibangun lebih cepat di lapangan, tetapi proses perencanaannya justru harus semakin terintegrasi.
Hal lain yang membuat pembangunan data center berbeda adalah kebutuhan energinya yang sangat besar. Infrastruktur komputasi tidak dapat beroperasi tanpa pasokan listrik yang stabil dan dalam jumlah besar.
Investasi Google di Finlandia memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan tersebut. Selain membangun dan mengembangkan data center, Google juga mengumumkan kerja sama energi jangka panjang, termasuk perjanjian selama 22 tahun yang berkaitan dengan pengembangan umur operasi pembangkit listrik tenaga nuklir Loviisa. Google juga merencanakan pengembangan energi angin dan sistem baterai untuk mendukung kebutuhan jaringan listrik.
Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan data center modern semakin sulit dipisahkan dari pembangunan infrastruktur energi.
Sebuah proyek data center pada akhirnya tidak hanya membutuhkan bangunan. Proyek tersebut juga membutuhkan koneksi listrik, jaringan transmisi, sistem backup, cooling system, water supply, sistem drainase, jaringan fiber optic, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Karena itu, pemilihan lokasi menjadi bagian penting dalam proses konstruksi. Ketersediaan listrik, air, jaringan komunikasi, kondisi tanah, akses logistik, serta kemampuan infrastruktur kawasan dapat menentukan kelayakan sebuah lokasi untuk pembangunan data center.
Server dengan kepadatan komputasi tinggi menghasilkan panas yang signifikan. Semakin tinggi kemampuan komputasi, semakin besar pula tantangan untuk menjaga temperatur peralatan tetap berada dalam kondisi operasional.
Karena itu, sistem pendinginan menjadi salah satu komponen utama dalam pembangunan data center. Pendekatan pendinginan dapat disesuaikan dengan karakteristik fasilitas, kondisi iklim, kepadatan peralatan, serta kebutuhan efisiensi energi.
Finlandia menjadi contoh menarik. Google sebelumnya telah mengembangkan data center di Hamina dengan memanfaatkan seawater cooling, sementara ekspansi terbaru perusahaan juga mempertimbangkan kondisi iklim dan ketersediaan energi di wilayah tersebut.
Hal ini memperlihatkan bahwa desain data center semakin mempertimbangkan hubungan antara bangunan, sistem mekanikal, kondisi lingkungan, dan sumber daya lokal.
Perkembangan data center juga meningkatkan penggunaan teknologi digital dalam proyek konstruksi. Building Information Modeling atau BIM, digital twin, sistem monitoring konstruksi, hingga berbagai aplikasi berbasis AI dapat membantu koordinasi desain dan pelaksanaan proyek.
Namun, penggunaan teknologi digital tidak otomatis membuat proyek berjalan lebih cepat. ENR mencatat bahwa tantangan pembangunan data center bukan hanya persoalan penggunaan teknologi digital, tetapi juga menyangkut proses kerja dan koordinasi manusia di balik proyek tersebut.
Ini menjadi pelajaran penting bagi industri konstruksi. Teknologi harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem kerja yang terintegrasi, bukan sekadar alat tambahan.
Ketika banyak disiplin engineering bekerja secara bersamaan, kesalahan koordinasi kecil pada tahap desain dapat menyebabkan perubahan pekerjaan, keterlambatan instalasi, hingga pembengkakan biaya pada tahap konstruksi.
Pertumbuhan data center global juga memberikan peluang bagi Indonesia. Indonesia memiliki pasar digital yang besar dan terus berkembang, sementara kebutuhan terhadap cloud computing, AI, layanan digital, dan penyimpanan data semakin meningkat.
Namun, pembangunan data center di Indonesia juga perlu mempertimbangkan kondisi lokal. Ketersediaan energi, keandalan jaringan listrik, sumber air, kondisi geoteknik, risiko banjir, temperatur lingkungan, akses logistik, serta kesiapan jaringan telekomunikasi menjadi bagian penting dari perencanaan.
Dari sisi konstruksi, kebutuhan tersebut mendorong kontraktor dan konsultan untuk memiliki kemampuan yang semakin terintegrasi. Pekerjaan tidak cukup hanya berorientasi pada penyelesaian struktur bangunan, tetapi harus memahami bagaimana seluruh sistem bangunan dapat bekerja sebagai satu kesatuan.
Dengan meningkatnya kebutuhan AI, kemungkinan besar kita akan melihat lebih banyak AI data center, hyperscale data center, modular data center, dan fasilitas komputasi berkapasitas tinggi dalam beberapa tahun mendatang.
Pertumbuhan data center menunjukkan bahwa masa depan industri konstruksi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membangun lebih besar, tetapi juga kemampuan membangun lebih cepat, lebih presisi, lebih terintegrasi, dan lebih adaptif terhadap kebutuhan teknologi.
Data center menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai bagaimana perubahan teknologi dapat menciptakan perubahan dalam metode konstruksi. Kebutuhan komputasi yang meningkat mendorong pembangunan fasilitas dengan kebutuhan struktur, energi, pendinginan, dan sistem utilitas yang semakin kompleks.
Pada akhirnya, keberhasilan proyek data center bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat bangunan dapat berdiri. Keberhasilannya ditentukan oleh seberapa baik seluruh sistem direncanakan, dikoordinasikan, dibangun, diuji, dan dioperasikan.
RAKTA melihat perkembangan ini sebagai bagian dari perubahan industri konstruksi menuju proyek yang semakin terintegrasi, presisi, dan berbasis teknologi, dengan perencanaan teknis yang kuat sebagai fondasi setiap tahap pembangunan.