Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi perhatian di Kalimantan pada Agustus 2026. Di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya risiko kebakaran, berbagai upaya dilakukan untuk memantau titik panas, memadamkan api, melakukan operasi udara, serta memperkuat kesiapsiagaan di wilayah...

Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi perhatian di Kalimantan pada Agustus 2026. Di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya risiko kebakaran, berbagai upaya dilakukan untuk memantau titik panas, memadamkan api, melakukan operasi udara, serta memperkuat kesiapsiagaan di wilayah yang memiliki potensi karhutla.
Namun, penanganan karhutla tidak hanya berbicara tentang apa yang dilakukan ketika api sudah muncul. Ada bagian lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana kondisi lahan dikelola sebelum musim kering mencapai puncaknya.
Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan dan pengelolaan air di dalam lahan. Di sinilah teknik konservasi tanah dan air seperti rorak dapat menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk mendukung pengelolaan lahan secara berkelanjutan.
Berdasarkan data BNPB pada 21 Agustus 2026, pemantauan satelit NASA NOAA 20 melalui SiPongi mencatat 1.842 titik panas di lima provinsi Kalimantan. Dari jumlah tersebut, 1.832 titik memiliki tingkat kepercayaan sedang dan 10 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
Kalimantan Tengah mencatat jumlah tertinggi dengan 976 titik panas, diikuti Kalimantan Barat sebanyak 489 titik, Kalimantan Timur 237 titik, Kalimantan Selatan 125 titik, dan Kalimantan Utara 15 titik.
Angka tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan dan kesiapsiagaan selama periode kemarau. Pemerintah sebelumnya juga memprediksi risiko karhutla mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026, terutama di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Meski demikian, perlu dipahami bahwa titik panas atau hotspot bukan berarti jumlah kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik panas, sehingga data tersebut tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Dalam kondisi kemarau, keterbatasan air dapat meningkatkan kerentanan suatu lahan terhadap kondisi kering. Vegetasi yang mengering dan bahan organik yang kehilangan kelembapan dapat menjadi lebih mudah terbakar apabila terdapat sumber api.
Karena itu, upaya pengelolaan lahan tidak cukup hanya berorientasi pada saat hujan turun. Air hujan yang tersedia perlu dikelola agar sebanyak mungkin dapat masuk dan tersimpan di dalam sistem tanah.
Pendekatan inilah yang membuat konservasi tanah dan air menjadi penting dalam pengelolaan lahan, terutama pada wilayah yang menghadapi periode kering.
Salah satu teknik sederhana yang dapat digunakan adalah rorak.
Rorak merupakan lubang atau parit kecil yang dibuat pada permukaan tanah untuk membantu menampung air hujan dan meningkatkan infiltrasi ke dalam tanah.
Ketika hujan turun, air yang biasanya langsung mengalir sebagai limpasan permukaan dapat tertahan sementara di dalam rorak. Air tersebut kemudian memiliki kesempatan lebih besar untuk meresap ke dalam tanah.
Kementerian Pertanian juga mendorong pembangunan rorak sebagai salah satu bentuk konservasi air bersama embung, sumur resapan, parit konservasi, guludan, dan terasering. Infrastruktur konservasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan infiltrasi, mengurangi limpasan, serta memperkuat cadangan air tanah selama musim kemarau.
Dengan kata sederhana, rorak bukan sekadar lubang di tanah. Rorak merupakan bagian dari upaya mengelola air hujan agar tidak seluruhnya hilang sebagai limpasan.
Prinsip kerja rorak sebenarnya cukup sederhana.
Ketika hujan turun, sebagian air masuk ke dalam cekungan rorak. Air kemudian meresap secara perlahan ke dalam profil tanah dan membantu meningkatkan ketersediaan air di sekitar area tersebut.
Proses ini juga berkaitan dengan infiltrasi. Sebuah penelitian mengenai penerapan rorak menunjukkan bahwa teknik tersebut dapat meningkatkan laju infiltrasi dan kadar air tanah pada kondisi tertentu. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ukuran dan kondisi tanah menjadi faktor yang memengaruhi efektivitas rorak.
Karena itu, penerapan rorak tidak dapat dilakukan secara seragam pada setiap lokasi. Desain, ukuran, jumlah, jarak, kondisi tanah, kemiringan lahan, serta pola aliran air perlu disesuaikan dengan karakteristik tapak.
Jawabannya perlu ditempatkan secara proporsional.
Rorak bukan sistem pemadam kebakaran dan bukan metode tunggal untuk mencegah karhutla.
Fungsi utamanya adalah konservasi tanah dan air. Namun, pengelolaan air melalui rorak dapat menjadi salah satu bagian dari strategi pengelolaan lahan, terutama dalam membantu meningkatkan infiltrasi dan mempertahankan ketersediaan air di dalam tanah.
Dalam konteks pencegahan karhutla, pendekatan tersebut perlu dikombinasikan dengan berbagai upaya lain seperti pemantauan titik panas, patroli kawasan, pengelolaan vegetasi dan bahan bakar permukaan, pencegahan pembakaran terbuka, kesiapsiagaan masyarakat, serta sistem respons kebakaran.
Dengan demikian, hubungan antara rorak dan karhutla lebih tepat dipahami sebagai bagian dari pendekatan pengelolaan kondisi lahan, bukan sebagai solusi tunggal terhadap kebakaran.
Penanganan karhutla di Kalimantan saat ini melibatkan berbagai pendekatan. Pemerintah memperkuat operasi darat, patroli, pemadaman, water bombing, dan Operasi Modifikasi Cuaca. Pada 20 Agustus 2026, Kementerian Kehutanan melaporkan bahwa penanganan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan melibatkan ribuan personel gabungan.
BNPB juga terus memperkuat operasi udara dan darat di wilayah prioritas. Pada 23 Agustus, misalnya, operasi water bombing di Kalimantan Barat melakukan delapan sorti dengan total lebih dari 1 juta liter air yang dijatuhkan untuk mendukung penanganan karhutla.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa respons terhadap karhutla membutuhkan sumber daya besar ketika kebakaran sudah terjadi.
Karena itu, pendekatan pencegahan menjadi semakin penting.
Mengelola air, menjaga kondisi vegetasi, memantau lahan, dan mengurangi sumber risiko merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi kerentanan sebelum api muncul.
Pengelolaan lahan yang baik tidak selalu membutuhkan teknologi yang kompleks. Dalam kondisi tertentu, teknik konservasi sederhana seperti rorak dapat menjadi bagian dari desain pengelolaan air di tingkat tapak.
Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada bagaimana teknik tersebut direncanakan dan diterapkan.
Rorak perlu ditempatkan berdasarkan arah limpasan air dan karakteristik topografi. Pada lahan dengan kondisi berbeda, kebutuhan desainnya juga dapat berbeda. Karena itu, pendekatan berbasis kondisi lapangan menjadi penting agar infrastruktur konservasi air benar benar memberikan manfaat.
Pada akhirnya, ketahanan lahan terhadap musim kering tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak air yang turun, tetapi juga oleh seberapa baik air tersebut dikelola.
Karhutla Kalimantan pada Agustus 2026 memperlihatkan bahwa periode kemarau membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih besar. Data titik panas menjadi salah satu indikator penting untuk pemantauan, sementara kondisi lahan, ketersediaan air, vegetasi, dan aktivitas manusia juga perlu diperhatikan dalam pengelolaan risiko.
Rorak memang bukan jawaban tunggal terhadap karhutla.
Namun, sebagai bagian dari konservasi tanah dan air, rorak dapat membantu meningkatkan infiltrasi dan mengelola air hujan di tingkat lahan. Ketika dikombinasikan dengan pemantauan, pengelolaan vegetasi, pencegahan sumber api, dan kesiapsiagaan, pendekatan sederhana ini dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan.
Karena mencegah risiko tidak selalu dimulai ketika masalah sudah terjadi. Terkadang, pencegahan dimulai dari bagaimana kita mengelola air dan menjaga kondisi lahan jauh sebelum api muncul.