Jalan Tol Layang Sheikh Mohamed Bin Zayed atau yang lebih dikenal sebagai Tol MBZ menjadi salah satu infrastruktur jalan layang yang menarik perhatian di Indonesia. Selain menjadi bagian penting dari konektivitas Jakarta, Bekasi, dan Karawang, jalan tol sepanjang sekitar 36,4 kilometer ini juga...

Jalan Tol Layang Sheikh Mohamed Bin Zayed atau yang lebih dikenal sebagai Tol MBZ menjadi salah satu infrastruktur jalan layang yang menarik perhatian di Indonesia. Selain menjadi bagian penting dari konektivitas Jakarta, Bekasi, dan Karawang, jalan tol sepanjang sekitar 36,4 kilometer ini juga memiliki karakteristik konstruksi yang cukup unik. Salah satunya adalah bentuk permukaan jalan yang pada beberapa bagian terasa naik dan turun ketika dilalui kendaraan.
Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan di kalangan pengguna jalan. Mengapa Tol MBZ dibuat tidak sepenuhnya rata? Apakah bentuk jalan yang terasa bergelombang merupakan akibat kesalahan konstruksi atau memang sudah direncanakan sejak awal?
Jawabannya berkaitan dengan desain geometrik jalan, kondisi infrastruktur eksisting, serta pertimbangan teknis dalam pembangunan jalan tol layang.
Istilah "bergolombang" yang sering digunakan masyarakat sebenarnya perlu dipahami dalam konteks konstruksi jalan. Pada jalan layang seperti MBZ, perubahan elevasi tidak selalu berarti permukaan jalan mengalami kerusakan atau dibuat secara sembarangan. Bentuk naik turun tersebut dapat menjadi bagian dari desain vertikal jalan yang mempertimbangkan kondisi lingkungan dan struktur yang harus dilewati.
Jalan Layang MBZ dibangun di atas Jalan Tol Jakarta Cikampek yang sudah beroperasi. Jalurnya juga melewati berbagai infrastruktur eksisting seperti overpass, jembatan penyeberangan orang, serta simpang susun. Karena itu, elevasi struktur jalan layang perlu disesuaikan dengan kondisi di sepanjang trase.
BPJT menjelaskan bahwa pembangunan Jalan Layang MBZ memang dirancang untuk memisahkan lalu lintas jarak pendek dengan lalu lintas jarak jauh. Jalur layang digunakan untuk perjalanan jarak jauh menuju wilayah seperti Cirebon, Bandung, Semarang, dan Surabaya, sedangkan jalur eksisting digunakan untuk pergerakan komuter jarak pendek. Jalan layang tersebut dirancang dengan batas kecepatan maksimal 80 km/jam untuk kendaraan golongan I nonbus.
Salah satu penjelasan mengenai bentuk naik turun Tol MBZ muncul dalam proses persidangan kasus pembangunan jalan tol tersebut. Seorang tenaga ahli jembatan dari PT LAPI Ganesatama Consulting, Tony Budianto Sihite, menyampaikan bahwa desain dasar yang diterima memang memiliki bentuk naik turun. Menurut keterangannya, rancangan tersebut berkaitan dengan permintaan pemberi kerja dan pertimbangan efektivitas biaya konstruksi.
Dalam konteks teknik sipil, perubahan elevasi pada jalan layang dapat berkaitan dengan kebutuhan untuk menyesuaikan ketinggian struktur terhadap berbagai objek yang dilintasi. Apabila seluruh struktur dipaksakan berada pada satu elevasi, kebutuhan terhadap ketinggian pier, fondasi, dan komponen struktur lainnya dapat berubah sehingga berdampak terhadap metode serta biaya pembangunan.
Dengan demikian, bentuk yang terasa seperti "gelombang" tidak serta-merta menunjukkan bahwa struktur jalan dibangun tanpa perencanaan. Justru pada proyek elevated toll road, desain elevasi harus mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kondisi jalan eksisting, kebutuhan ruang bebas vertikal, struktur penyangga, hingga batas geometrik yang dapat diterima kendaraan.
Salah satu tantangan terbesar pembangunan Tol MBZ adalah lokasinya yang berada di atas koridor Jalan Tol Jakarta Cikampek yang telah beroperasi dengan volume kendaraan tinggi. Kondisi tersebut membuat pembangunan struktur layang membutuhkan metode konstruksi yang mampu meminimalkan gangguan terhadap lalu lintas di bawahnya.
Dalam pembangunannya, proyek ini menggunakan Teknologi Sosrobahu. Teknologi tersebut memungkinkan bagian struktur tertentu diputar sehingga pembangunan pier dan struktur jalan layang dapat dilakukan dengan lebih efektif di atas jalur yang tetap digunakan kendaraan. BPJT menyebut teknologi ini menjadi salah satu solusi untuk pembangunan konstruksi jalan di atas jalan eksisting yang padat.
Proyek Jalan Tol Jakarta Cikampek II Elevated sendiri memiliki panjang sekitar 36,4 kilometer dengan konfigurasi 4 lajur pada masing-masing arah. Pemerintah mencatat proyek tersebut menggunakan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha dan memiliki masa konsesi 45 tahun.
Tidak selalu. Permukaan jalan yang terasa naik turun perlu dibedakan antara kondisi yang memang merupakan bagian dari desain geometrik dengan kondisi kerusakan atau ketidakrataan yang muncul akibat faktor operasional dan pemeliharaan.
Pada jalan layang, perubahan elevasi harus dirancang agar kendaraan tetap dapat melintas dengan aman sesuai batas kecepatan dan persyaratan teknis yang berlaku. Karena itu, sensasi kendaraan seperti melewati jalan yang naik kemudian turun tidak secara otomatis dapat digunakan sebagai indikator bahwa konstruksi jalan tersebut gagal.
Namun, kenyamanan berkendara tetap menjadi aspek penting. Permukaan jalan, sambungan struktur, drainase, pemeliharaan, serta kondisi material dapat memengaruhi pengalaman pengendara ketika melintasi jalan tol.
Jalan Layang MBZ mulai beroperasi pada 12 Desember 2019 dan sebelumnya dikenal sebagai Jalan Tol Jakarta Cikampek II Elevated. Pemerintah kemudian menetapkan nama Jalan Layang MBZ Sheikh Mohamed Bin Zayed melalui Keputusan Menteri PUPR Nomor 417/KPTS/M/2021.
BPJT mencatat bahwa jalan layang ini membentang dari Junction Cikunir hingga Karawang Barat. Struktur tersebut dibangun untuk meningkatkan kapasitas perjalanan jarak jauh sekaligus memisahkannya dari lalu lintas jarak pendek yang tetap menggunakan jalur Jakarta Cikampek eksisting.
Jadi, anggapan bahwa Tol MBZ "sengaja dibuat bergelombang" perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih tepat. Bentuk naik turun pada beberapa bagian bukan sekadar membuat permukaan jalan tidak rata, tetapi berkaitan dengan rancangan elevasi dan kebutuhan konstruksi jalan layang yang harus menyesuaikan kondisi trase serta infrastruktur yang sudah ada.
Bagi dunia konstruksi, kasus Tol MBZ menunjukkan bahwa pembangunan jalan layang bukan hanya persoalan membuat permukaan jalan sepanjang mungkin dalam satu garis lurus. Setiap perubahan elevasi merupakan bagian dari perencanaan yang harus memperhitungkan struktur, keselamatan, ruang bebas, kondisi eksisting, metode konstruksi, hingga efisiensi pembangunan.
Pada akhirnya, memahami konstruksi jalan dari sisi teknis membantu kita melihat bahwa bentuk sebuah infrastruktur tidak selalu dapat dinilai hanya dari apa yang terlihat atau terasa ketika melewatinya. Di balik permukaan jalan terdapat perhitungan struktur dan desain yang menentukan bagaimana sebuah jalan dapat dibangun serta digunakan.
RAKTA menghadirkan perspektif konstruksi dan pembangunan infrastruktur dengan mengedepankan pemahaman terhadap proses, teknologi, dan perencanaan yang menjadi bagian penting dalam menciptakan infrastruktur yang fungsional dan berkelanjutan.