Industri pakan ternak merupakan bagian penting dari rantai industri peternakan dan pangan. Di balik proses produksi pakan, terdapat aktivitas seperti pencucian peralatan, operasional boiler, laboratorium, biosecurity, serta kegiatan pendukung lainnya yang dapat menghasilkan air limbah.

Industri pakan ternak merupakan bagian penting dari rantai industri peternakan dan pangan. Di balik proses produksi pakan, terdapat aktivitas seperti pencucian peralatan, operasional boiler, laboratorium, biosecurity, serta kegiatan pendukung lainnya yang dapat menghasilkan air limbah.
Karena karakteristik dan sumber limbahnya dapat berbeda dengan limbah domestik, IPAL industri pakan ternak perlu dirancang berdasarkan debit, karakteristik air limbah, beban pencemar, serta tujuan akhir pengolahan. Bahkan, sejak 26 Februari 2026, Permen LH/BPLH No. 2 Tahun 2026 secara khusus mengatur baku mutu air limbah dan standar teknologi pengolahan untuk usaha dan/atau kegiatan pakan ternak dan pakan akuakultur. Regulasi tersebut menyatakan bahwa kegiatan pakan ternak dan pakan akuakultur yang menghasilkan air limbah wajib melakukan pengolahan sebelum air limbah dilepas ke lingkungan.
Air limbah dari pabrik pakan ternak tidak selalu berasal langsung dari proses pencampuran bahan baku. Berdasarkan Permen LH/BPLH No. 2 Tahun 2026, sumber air limbah kegiatan pakan ternak antara lain dapat berasal dari blowdown boiler, air cucian alat laboratorium, dan proses biosecurity. Regulasi juga memungkinkan sistem pengolahan air limbah dibuat secara tersendiri maupun terintegrasi dengan air limbah dari kegiatan lainnya.
Dalam praktiknya, aktivitas produksi dan fasilitas pendukung perlu dipetakan sejak tahap perencanaan agar seluruh sumber air limbah dapat diarahkan ke sistem pengolahan yang sesuai.
Artinya, desain IPAL pabrik pakan ternak tidak cukup hanya menghitung volume air limbah. Sumber limbah, karakteristik setiap aliran, potensi kontaminan, dan pola operasional juga perlu menjadi dasar desain.
Karakteristik limbah cair industri pakan ternak dapat berbeda tergantung proses produksi dan fasilitas yang digunakan. Beberapa parameter yang dapat menjadi perhatian antara lain BOD, COD, TSS, pH, amonia, nitrogen, TDS, minyak dan lemak, serta parameter spesifik tertentu.
Sebuah penelitian pada industri pakan ternak di Sidoarjo menemukan bahwa air limbah dari aktivitas boiler, desinfeksi kendaraan, dan laboratorium mengandung TDS, TSS, pH, amonia, fluoride, BOD, dan COD. Penelitian tersebut juga mengevaluasi efektivitas IPAL yang digunakan industri dan menemukan bahwa sebagian besar parameter dapat diturunkan dengan baik, meskipun kinerja penghilangan fluoride masih perlu ditingkatkan.
Penelitian lain pada industri pakan ternak mencatat karakteristik awal limbah sebesar COD 1.035,97 mg/L dan BOD 937,63 mg/L dengan pH 7,58. Setelah proses aerasi selama enam jam, COD turun menjadi 223,46 mg/L dan BOD menjadi 101,4 mg/L. Kombinasi proses aerasi dan biologi aerob kemudian menghasilkan COD 65,66 mg/L dan BOD 30,26 mg/L pada kondisi penelitian tersebut.
Data tersebut menunjukkan bahwa pengolahan air limbah industri pakan membutuhkan proses yang mampu menurunkan beban organik secara signifikan sebelum air limbah dilepas atau dimanfaatkan.
Salah satu perubahan penting pada tahun 2026 adalah hadirnya regulasi khusus untuk industri pakan ternak dan pakan akuakultur.
Untuk sistem pengolahan tersendiri yang membuang air limbah ke media air, Lampiran I Permen LH/BPLH No. 2 Tahun 2026 menetapkan antara lain:
pH: 6–9
Suhu: maksimal 38°C
BOD: maksimal 50 mg/L
COD: maksimal 100 mg/L
Total Nitrogen: maksimal 20 mg/L
TSS: maksimal 30 mg/L
Minyak dan lemak: maksimal 10 mg/L
Volume air limbah maksimum: 0,1 m³ per ton produk
Nilai tersebut berlaku untuk kategori pakan ternak dan pakan akuakultur pada kondisi pembuangan ke media air dengan sistem pengolahan tersendiri sebagaimana diatur dalam lampiran tersebut. Karena standar dapat berbeda berdasarkan sistem pengolahan dan metode pelepasan, desain harus mengacu pada kategori yang sesuai dengan kondisi fasilitas.
Dengan adanya standar tersebut, desain IPAL industri pakan ternak harus mempertimbangkan target kualitas efluen sejak tahap awal, bukan setelah fasilitas selesai dibangun.
Tidak ada satu konfigurasi IPAL yang otomatis cocok untuk semua pabrik pakan. Desain harus dimulai dari karakterisasi air limbah dan perhitungan beban pencemar.
Secara sederhana, pendekatan desain dapat dilakukan melalui:
Sumber Limbah → Debit → Karakteristik → Beban Pencemar → Target Efluen → Teknologi → Dimensi Unit → Operasional
Berdasarkan karakteristik limbah, sistem dapat melibatkan beberapa unit seperti screening, equalization tank, sedimentasi, koagulasi-flokulasi, proses biologis, filtrasi, dan disinfeksi apabila diperlukan.
Untuk limbah dengan beban organik yang tinggi, proses biologis dapat menjadi bagian penting dalam WWTP industri pakan ternak. Teknologi seperti biofilter aerob, activated sludge, atau konfigurasi biologis lainnya dapat dipertimbangkan berdasarkan hasil karakterisasi dan kebutuhan desain.
Pengolahan limbah cair industri pakan ternak tidak selalu harus berakhir pada pembuangan. Apabila kualitas efluen dan persyaratan teknis memungkinkan, air hasil pengolahan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu.
Studi pada industri ransum makanan hewan di Jawa Timur mencatat total air limbah sebesar 11,18 m³/hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 10,68 m³/hari direncanakan untuk penyiraman ruang terbuka hijau dan 0,5 m³/hari untuk pencucian kendaraan operasional, sehingga seluruh volume air limbah yang diolah dimanfaatkan kembali dalam skema penelitian tersebut. Teknologi IPAL yang digunakan adalah Anaerobic Baffled Reactor (ABR).
Pendekatan seperti ini dapat mendukung efisiensi penggunaan air sekaligus mengurangi kebutuhan air bersih untuk aktivitas non-potable.
Pembangunan IPAL pabrik pakan ternak tidak berhenti pada pemasangan tangki dan peralatan. Kinerja sistem sangat dipengaruhi oleh desain hidrolik, waktu tinggal, aerasi, dosing chemical, kontrol proses, pengelolaan lumpur, serta monitoring kualitas efluen.
Hal ini terlihat dari studi evaluasi IPAL industri pakan di Sidoarjo yang menemukan bahwa sistem secara umum efektif menurunkan sebagian besar parameter pencemar, tetapi masih terdapat parameter tertentu yang membutuhkan peningkatan kinerja. Salah satu rekomendasi yang diberikan adalah perbaikan sistem dosing koagulan dan flokulan menggunakan dosing pump agar pemberian bahan kimia lebih stabil.
Dengan demikian, operasi dan pemeliharaan IPAL sama pentingnya dengan desain dan pembangunan fasilitas.
Kapasitas IPAL industri harus mempertimbangkan debit aktual dan potensi perubahan produksi. Data produksi, konsumsi air, jam operasi, peak flow, sumber air limbah, serta variasi beban pencemar perlu digunakan untuk menentukan kapasitas unit.
Permen LH/BPLH No. 2 Tahun 2026 juga mengaitkan standar teknologi pengolahan dengan debit air limbah. Regulasi tersebut membedakan kategori debit hingga 3 m³/hari dan lebih dari 3 hingga 50 m³/hari, sementara kegiatan dengan pembuangan ke media air di atas 50 m³/hari dapat menggunakan standar teknologi tertentu melalui kajian teknis dalam penerbitan persetujuan teknis.
Artinya, perencanaan IPAL pabrik pakan harus mempertimbangkan kapasitas sekarang sekaligus proyeksi operasional perusahaan.
Industri pakan ternak membutuhkan sistem pengolahan air limbah yang dirancang berdasarkan kondisi aktual fasilitas, bukan sekadar menggunakan konfigurasi IPAL yang sama untuk setiap industri.
RAKTA mendukung kebutuhan jasa desain IPAL, perencanaan IPAL industri, pembangunan IPAL pabrik pakan ternak, dan pengembangan sistem pengolahan air limbah industri dengan pendekatan engineering yang mempertimbangkan karakteristik limbah, debit, target efluen, kebutuhan lahan, hingga operasional sistem.
Dengan desain yang tepat, IPAL industri pakan ternak dapat menjadi bagian dari infrastruktur produksi yang membantu perusahaan memenuhi persyaratan lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan air secara berkelanjutan.