Perkembangan energi terbarukan membawa tantangan baru bagi sistem kelistrikan. Pembangkit seperti solar photovoltaic dan wind power menghasilkan listrik yang bergantung pada kondisi alam, sementara kebutuhan listrik masyarakat dan industri terus berubah sepanjang waktu.

Perkembangan energi terbarukan membawa tantangan baru bagi sistem kelistrikan. Pembangkit seperti solar photovoltaic dan wind power menghasilkan listrik yang bergantung pada kondisi alam, sementara kebutuhan listrik masyarakat dan industri terus berubah sepanjang waktu.
Di sinilah Battery Energy Storage System atau BESS semakin mendapat perhatian. Sistem ini memungkinkan listrik disimpan ketika produksi energi tersedia dan digunakan kembali ketika permintaan meningkat atau produksi energi terbarukan menurun.
Perkembangan tersebut membuat battery energy storage tidak lagi sekadar menjadi perangkat pendukung pembangkit listrik. Infrastruktur penyimpanan energi kini mulai menjadi bagian penting dari pembangunan sistem kelistrikan modern dan menciptakan peluang baru bagi industri konstruksi.
Menurut International Energy Agency atau IEA, 108 GW kapasitas battery storage baru diterapkan secara global pada 2025, meningkat sekitar 40% dibandingkan 2024. Kapasitas terpasang global juga telah mencapai sekitar 11 kali lipat dibandingkan 2021.
Pertumbuhan BESS tidak dapat dipisahkan dari meningkatnya penggunaan energi terbarukan. Solar PV dan wind power memiliki karakter produksi yang berubah mengikuti waktu, cuaca, dan kondisi lingkungan.
Ketika produksi listrik dari panel surya tinggi pada siang hari, misalnya, sebagian energi dapat disimpan dalam baterai. Energi tersebut kemudian dapat digunakan pada sore atau malam ketika produksi solar PV menurun tetapi permintaan listrik masih tinggi.
Battery storage pada akhirnya berfungsi sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan flexibility of power systems.
IEA mencatat bahwa sekitar 80% kapasitas battery storage baru pada 2025 merupakan proyek utility scale, sementara sisanya berasal dari sistem yang dipasang di belakang meter pada sektor komersial dan rumah tangga.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan BESS semakin berkaitan dengan proyek infrastruktur berskala besar.
Dari perspektif konstruksi, Battery Energy Storage System merupakan fasilitas yang membutuhkan perencanaan multidisiplin.
Sebuah proyek BESS dapat melibatkan battery containers atau enclosure, sistem HVAC, electrical equipment, transformer, inverter, fire protection system, control system, drainage, access road, fencing, hingga sistem monitoring dan keamanan.
Karena itu, pembangunan fasilitas energy storage membutuhkan integrasi antara pekerjaan sipil, struktur, elektrikal, mekanikal, sistem proteksi kebakaran, serta sistem kontrol.
Pada proyek berskala utility, tantangannya menjadi semakin kompleks karena fasilitas harus terhubung dengan jaringan listrik dan mampu beroperasi secara aman dalam jangka panjang.
Dengan kata lain, konstruksi BESS bukan hanya tentang membangun tempat untuk menyimpan baterai. Infrastruktur tersebut harus dirancang sebagai bagian dari sistem energi yang lebih besar.
Pertumbuhan proyek BESS juga membawa tantangan tersendiri bagi industri konstruksi.
Salah satu aspek paling penting adalah fire safety. Sistem penyimpanan energi menggunakan baterai dalam jumlah besar sehingga desain fasilitas harus mempertimbangkan risiko thermal runaway, sistem deteksi, proteksi kebakaran, ventilasi, akses darurat, dan prosedur keselamatan.
Selain itu, lokasi proyek harus dipertimbangkan secara matang. Ketersediaan lahan, kondisi tanah, akses konstruksi, jarak terhadap jaringan listrik, kebutuhan interkoneksi, serta kondisi lingkungan sekitar dapat memengaruhi desain dan biaya proyek.
IEA juga mencatat bahwa banyak proyek utility scale battery storage menghadapi hambatan berupa keterlambatan koneksi jaringan dan proses perizinan, termasuk persetujuan perencanaan serta kekhawatiran masyarakat terkait keselamatan kebakaran.
Artinya, keberhasilan proyek BESS tidak hanya ditentukan oleh teknologi baterai yang digunakan. Perencanaan konstruksi, engineering, permitting, dan keselamatan menjadi bagian yang sama pentingnya.
Salah satu alasan lain di balik pertumbuhan BESS adalah penurunan biaya teknologi baterai.
IEA mencatat bahwa biaya proyek battery storage utility scale turun sekitar 40% pada 2024 menjadi sekitar USD 150/kWh. Harga battery pack juga kembali turun sekitar 8% pada 2025 setelah sebelumnya turun sekitar 20% pada 2024.
Penurunan biaya tersebut meningkatkan daya tarik investasi dalam proyek penyimpanan energi.
Selain itu, teknologi lithium iron phosphate atau LFP semakin dominan. IEA mencatat bahwa LFP menyumbang sekitar 90% deployment battery storage pada 2025, terutama karena biaya yang relatif lebih rendah dan kemampuan cycling yang sesuai untuk aplikasi penyimpanan energi.
Perkembangan teknologi ini pada akhirnya ikut mendorong munculnya proyek konstruksi baru di berbagai negara.
Aplikasi battery storage semakin beragam.
BESS dapat ditempatkan bersama pembangkit solar PV dan wind power untuk menyimpan energi yang dihasilkan. Sistem ini juga dapat digunakan untuk membantu stabilitas jaringan, menyediakan kapasitas ketika permintaan meningkat, serta mengurangi tekanan pada jaringan listrik.
IEA menjelaskan bahwa battery storage dapat membantu grid balancing, grid support, capacity provision, dan energy shifting. Sistem penyimpanan juga berpotensi membantu menunda atau mengurangi kebutuhan terhadap beberapa jenis peningkatan kapasitas jaringan.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan dengan pertumbuhan data center, kendaraan listrik, heat pump, dan beban listrik berskala besar lainnya.
Bagi industri konstruksi, perkembangan ini berarti peluang proyek tidak hanya berada pada pembangkit listrik konvensional. Infrastruktur energi masa depan juga mencakup fasilitas penyimpanan energi, penguatan jaringan, dan fasilitas pendukung elektrifikasi.
Skala proyek battery storage juga terus meningkat.
IEA mencatat bahwa kapasitas rata-rata utility scale battery storage meningkat di sejumlah pasar. Di Amerika Serikat, kapasitas rata-rata proyek meningkat dari sekitar 15 MW pada 2021 menjadi sekitar 35 MW pada 2024. Di Eropa, proyek 1.000 MW/4.000 MWh sedang dibangun oleh LEAG dan Fluence di Jerman.
Di Australia, sistem Eraring direncanakan berkembang dari 460 MW menjadi 700 MW dengan kapasitas energi 2.800 MWh pada 2027. Sementara itu, Arab Saudi telah mengoperasikan fasilitas BESS berkapasitas 500 MW/2.000 MWh di Bisha pada 2025.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa battery storage telah bergerak dari proyek demonstrasi menuju infrastruktur energi berskala besar.
Pertumbuhan BESS juga memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur energi tidak dapat dipisahkan dari kondisi jaringan listrik.
Ketika semakin banyak pembangkit renewable energy dan sistem battery storage masuk ke jaringan, kebutuhan terhadap transmisi dan distribusi yang fleksibel juga meningkat.
IEA menyebut keterbatasan kapasitas jaringan sebagai salah satu bottleneck utama yang memperlambat koneksi pembangkit, storage, dan beban listrik baru di berbagai wilayah dunia. Antrean koneksi jaringan bahkan telah mencapai tingkat yang tinggi secara global.
Hal ini menciptakan kebutuhan terhadap pendekatan konstruksi yang lebih terintegrasi. Proyek pembangkit, BESS, substation, transmission line, dan distribution infrastructure perlu direncanakan sebagai bagian dari satu ekosistem energi.
Bagi Indonesia, perkembangan battery energy storage menjadi relevan seiring meningkatnya kebutuhan integrasi energi terbarukan dan modernisasi sistem kelistrikan.
Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan solar PV, wind power, dan sumber energi terbarukan lainnya. Namun, karakteristik produksi energi terbarukan yang tidak selalu sesuai dengan pola permintaan listrik membuat teknologi penyimpanan menjadi salah satu komponen yang semakin penting.
Dalam konteks tersebut, pengembangan BESS dapat membuka peluang baru untuk proyek infrastruktur energi, konstruksi fasilitas elektrikal, engineering, dan sustainable construction.
Namun, penerapannya tetap membutuhkan kajian teknis dan regulasi yang matang, terutama terkait interkoneksi jaringan, keselamatan, tata ruang, perizinan, lingkungan, serta pengelolaan baterai setelah mencapai akhir masa pakainya.
Pertumbuhan BESS menunjukkan bahwa definisi infrastruktur energi sedang mengalami perubahan.
Jika sebelumnya pembangunan energi identik dengan pembangkit, transmisi, dan distribusi, kini sistem penyimpanan energi menjadi komponen yang semakin penting. Battery storage membantu menghubungkan produksi energi dengan kebutuhan listrik secara lebih fleksibel.
Bagi industri konstruksi, perubahan ini berarti munculnya kategori proyek baru yang membutuhkan kemampuan engineering, construction management, electrical infrastructure, fire safety, dan environmental management secara bersamaan.
Dengan pertumbuhan global yang begitu cepat, Battery Energy Storage System bukan lagi sekadar teknologi masa depan. BESS telah menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur energi masa kini.
Battery Energy Storage berkembang pesat karena kebutuhan sistem kelistrikan terhadap fleksibilitas semakin besar. Pada 2025, dunia menambahkan sekitar 108 GW kapasitas battery storage, dengan sekitar 80% di antaranya merupakan proyek utility scale.
Pertumbuhan tersebut membuka peluang besar bagi industri konstruksi. Pembangunan BESS membutuhkan lebih dari sekadar pemasangan baterai karena melibatkan pekerjaan sipil, elektrikal, mekanikal, struktur, sistem proteksi kebakaran, koneksi jaringan, hingga pengelolaan lingkungan.
Ketika energi terbarukan terus berkembang, kebutuhan terhadap infrastruktur penyimpanan juga akan semakin besar.
Masa depan konstruksi energi bukan hanya tentang bagaimana listrik dihasilkan, tetapi juga bagaimana listrik disimpan, dikelola, dan digunakan secara lebih fleksibel.
Perkembangan battery energy storage menunjukkan bahwa infrastruktur energi masa depan membutuhkan pendekatan konstruksi yang semakin terintegrasi.
RAKTA hadir dengan perspektif engineering dan construction untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang mengutamakan kualitas, keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan.
Karena infrastruktur masa depan tidak hanya harus dibangun dengan kuat, tetapi juga dirancang untuk menjawab kebutuhan energi yang terus berubah.