Ketika membicarakan perubahan iklim, pembahasan sering kali berfokus pada kenaikan suhu, perubahan pola hujan, kekeringan, atau meningkatnya risiko bencana. Namun, ada satu sektor yang secara langsung harus menghadapi perubahan tersebut setiap hari, yaitu konstruksi dan infrastruktur.

Ketika membicarakan perubahan iklim, pembahasan sering kali berfokus pada kenaikan suhu, perubahan pola hujan, kekeringan, atau meningkatnya risiko bencana. Namun, ada satu sektor yang secara langsung harus menghadapi perubahan tersebut setiap hari, yaitu konstruksi dan infrastruktur.
Bangunan, jalan, jembatan, bendungan, sistem drainase, kawasan industri, hingga berbagai infrastruktur publik dirancang untuk beroperasi selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Artinya, struktur yang dibangun hari ini tidak hanya harus mampu menghadapi kondisi lingkungan saat ini, tetapi juga harus memiliki ketahanan terhadap perubahan kondisi iklim selama masa layanannya.
Kementerian Pekerjaan Umum pada 2026 menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur Indonesia perlu memperhatikan prinsip resilience, connectivity, sustainability, dan inclusivity, terutama karena Indonesia menghadapi berbagai risiko seperti gempa bumi, banjir, longsor, dan bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim.
Pertanyaannya kemudian menjadi penting:
Apakah bangunan dan infrastruktur yang kita bangun hari ini sudah benar-benar siap menghadapi kondisi iklim yang semakin dinamis?
Perubahan iklim dapat memberikan tekanan terhadap berbagai bagian bangunan. Hujan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan beban sistem drainase dan memperbesar risiko genangan atau banjir. Suhu yang lebih tinggi dapat meningkatkan beban pendinginan bangunan dan memberikan tekanan termal pada material tertentu. Sementara itu, periode kering yang lebih panjang dapat memengaruhi ketersediaan air serta kondisi tanah.
BMKG pada 2026 juga menekankan bahwa perubahan iklim dan kondisi cuaca ekstrem perlu diantisipasi melalui pendekatan yang lebih berbasis dampak. BMKG menyebut perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem sehingga informasi cuaca perlu diterjemahkan menjadi tindakan mitigasi di berbagai sektor pembangunan.
Bagi dunia konstruksi, informasi tersebut seharusnya tidak berhenti pada peringatan cuaca. Data iklim perlu diterjemahkan ke dalam keputusan desain dan engineering.
Salah satu kesalahan dalam memahami konstruksi tahan perubahan iklim adalah menganggap bahwa bangunan tangguh hanya membutuhkan struktur yang lebih kuat.
Kekuatan struktur memang penting, tetapi ketahanan bangunan terhadap perubahan iklim jauh lebih luas. Desain perlu mempertimbangkan bagaimana bangunan merespons panas, hujan, kelembapan, angin, genangan, dan kondisi lingkungan lainnya.
Dalam perencanaan bangunan, misalnya, bentuk dan kemiringan atap dapat memengaruhi bagaimana air hujan dialirkan. Kapasitas talang dan drainase perlu disesuaikan dengan kondisi hidrologi lokasi. Elevasi lantai juga dapat menjadi pertimbangan penting pada kawasan dengan risiko banjir.
Dengan kata lain, bangunan tahan perubahan iklim harus dirancang berdasarkan karakteristik lokasi, bukan hanya menggunakan desain yang sama untuk semua wilayah.
Ketahanan bangunan terhadap perubahan iklim tidak hanya ditentukan oleh struktur di atas tanah. Kondisi tanah dan fondasi juga perlu diperhatikan.
Curah hujan tinggi dapat menyebabkan peningkatan kadar air tanah, erosi, perubahan kondisi tanah tertentu, hingga potensi longsor pada lokasi yang memiliki kemiringan. Sebaliknya, periode kering yang panjang dapat memengaruhi kadar air tanah dan karakteristik volume tanah tertentu.
Karena itu, soil investigation atau penyelidikan tanah menjadi bagian penting dalam proses perencanaan konstruksi. Data mengenai karakteristik tanah dapat membantu engineer menentukan sistem fondasi dan strategi konstruksi yang sesuai dengan kondisi lokasi.
Bangunan yang terlihat kokoh dari luar belum tentu memiliki ketahanan yang baik apabila sistem fondasinya tidak dirancang berdasarkan kondisi tanah dan lingkungan setempat.
Salah satu aspek konstruksi yang sering terlihat sederhana tetapi sangat penting dalam menghadapi perubahan iklim adalah sistem drainase.
Ketika hujan ekstrem terjadi, kapasitas drainase yang tidak memadai dapat menyebabkan air menggenang di sekitar bangunan, masuk ke area basement, merusak jalan, menggerus tanah, atau meningkatkan beban pada sistem pengendalian air.
Karena itu, desain drainase perlu mempertimbangkan data curah hujan, karakteristik daerah tangkapan air, kemiringan lahan, kapasitas saluran, serta kondisi outlet.
Drainase bukan sekadar membuat air “mengalir keluar”. Sistem tersebut harus mampu bekerja ketika menghadapi volume dan intensitas air yang mungkin berbeda dari kondisi normal.
Perubahan kondisi lingkungan juga dapat memengaruhi umur material konstruksi.
Suhu tinggi, kelembapan, air, paparan sinar matahari, dan siklus basah-kering dapat memengaruhi performa material tertentu. Pada struktur beton bertulang, misalnya, masuknya air dan zat agresif ke dalam beton dapat meningkatkan risiko korosi tulangan dalam kondisi tertentu. Pada komponen baja, lingkungan yang lembap atau korosif dapat mempercepat degradasi apabila perlindungan dan pemeliharaan tidak memadai.
Karena itu, pemilihan material konstruksi tidak seharusnya hanya didasarkan pada harga dan kekuatan awal. Lingkungan tempat material tersebut akan digunakan juga perlu menjadi pertimbangan.
Bangunan di kawasan pesisir tentu menghadapi kondisi yang berbeda dengan bangunan di daerah pegunungan. Begitu pula bangunan di wilayah dengan kelembapan tinggi akan menghadapi tantangan berbeda dibandingkan kawasan dengan iklim yang lebih kering.
Menariknya, Indonesia telah memiliki produk informasi iklim yang dapat mendukung kebutuhan perencanaan bangunan dan infrastruktur.
BMKG mengembangkan Spatial Indonesian Untypical Meteorological Year (SI-UTMY), yaitu informasi yang menggambarkan kondisi iklim yang paling menyimpang dari pola iklim tipikal di berbagai wilayah Indonesia. Data tersebut mencakup parameter seperti suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, dan radiasi matahari.
BMKG menyebut SI-UTMY dapat digunakan untuk mendukung perencanaan bangunan dan infrastruktur yang lebih tangguh terhadap kondisi iklim yang tidak normal, termasuk perencanaan bangunan hemat energi dan desain yang lebih adaptif terhadap variabilitas iklim.
Ini menunjukkan bahwa konstruksi tahan iklim bukan sekadar konsep. Data iklim dapat diterjemahkan menjadi parameter teknis dalam proses desain.
Tantangan perubahan iklim tidak hanya terjadi pada gedung.
Jalan dapat mengalami kerusakan akibat genangan, temperatur tinggi, atau perubahan kondisi tanah. Jembatan harus mempertimbangkan kondisi aliran air, gerusan, banjir, dan beban lingkungan lainnya. Infrastruktur sumber daya air juga harus menghadapi perubahan pola ketersediaan air.
Pada 2026, BMKG memproyeksikan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau yang lebih kering dari biasanya. Dalam pemutakhiran Juni 2026, sebanyak 482 Zona Musim atau sekitar 56,18% luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau dengan kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya. BMKG juga memprediksi durasi musim kemarau lebih panjang dari normal pada 437 Zona Musim yang mencakup sekitar 48,77% luas daratan Indonesia.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa desain infrastruktur juga perlu memperhitungkan ketahanan terhadap kekeringan, bukan hanya banjir.
Ada anggapan bahwa membuat bangunan tahan perubahan iklim pasti membutuhkan biaya konstruksi yang jauh lebih besar. Padahal, pendekatan yang paling efektif justru dapat dimulai sejak tahap perencanaan.
Mempertimbangkan orientasi bangunan, sistem drainase, elevasi, material, desain atap, ventilasi, pemilihan sistem struktur, hingga akses pemeliharaan sejak awal dapat membantu mengurangi kebutuhan perubahan besar ketika bangunan sudah selesai.
Sebaliknya, ketika aspek tersebut baru dipikirkan setelah masalah terjadi, biaya perbaikan dapat menjadi jauh lebih besar. Kerusakan akibat banjir, korosi, kegagalan drainase, kerusakan jalan, atau gangguan operasional dapat menghasilkan biaya yang tidak hanya berupa perbaikan fisik, tetapi juga downtime dan gangguan aktivitas.
Karena itu, climate resilient construction pada dasarnya adalah pendekatan untuk mengurangi risiko sepanjang umur bangunan.
Indonesia telah bergerak menuju pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh. Pemerintah mendorong prinsip resilience dalam pembangunan, BMKG menyediakan data iklim untuk mendukung perencanaan, dan berbagai sektor mulai memperkuat mitigasi terhadap cuaca ekstrem.
Namun, kesiapan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan. Pada akhirnya, ketahanan sebuah bangunan ditentukan oleh bagaimana informasi tersebut diterjemahkan ke dalam desain, perhitungan struktur, pemilihan material, konstruksi, inspeksi, dan pemeliharaan.
Bangunan yang dirancang untuk kondisi iklim masa lalu mungkin belum tentu optimal untuk menghadapi kondisi masa depan.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya “Apakah bangunan ini kuat?”, tetapi juga:
“Apakah bangunan ini dirancang untuk kondisi lingkungan yang akan dihadapinya sepanjang umur layan?”
Inilah yang menjadi salah satu tantangan penting bagi dunia konstruksi Indonesia ke depan.
RAKTA mendukung perencanaan dan pelaksanaan konstruksi yang mempertimbangkan aspek teknis, kualitas, keselamatan, ketahanan, dan keberlanjutan, sehingga bangunan dan infrastruktur dapat dipersiapkan bukan hanya untuk kebutuhan hari ini, tetapi juga menghadapi tantangan lingkungan di masa mendatang.