Bendungan merupakan salah satu bentuk infrastruktur sipil yang memiliki fungsi strategis, mulai dari pembangkit listrik tenaga air, pengendalian banjir, penyediaan air, hingga irigasi. Namun, semakin besar dan tinggi sebuah bendungan, semakin kompleks pula tantangan konstruksi yang harus...

Bendungan merupakan salah satu bentuk infrastruktur sipil yang memiliki fungsi strategis, mulai dari pembangkit listrik tenaga air, pengendalian banjir, penyediaan air, hingga irigasi. Namun, semakin besar dan tinggi sebuah bendungan, semakin kompleks pula tantangan konstruksi yang harus diselesaikan.
Untuk melihat skalanya, lima bendungan yang telah selesai dibangun dan termasuk yang tertinggi di dunia adalah Jinping-I di China dengan tinggi 305 meter, Nurek di Tajikistan 300 meter, Xiaowan di China 292 meter, Baihetan di China 289 meter, dan Xiluodu di China sekitar 285,5 meter.
Jinping-I merupakan bendungan tertinggi di dunia dengan tinggi 305 meter. Bendungan ini berada di Sungai Yalong, Sichuan, China, dan menggunakan struktur double-curvature arch dam. Pembangunannya menghadapi kondisi pegunungan yang curam, lembah sempit, serta kondisi geologi yang kompleks.
Salah satu tantangan terbesarnya adalah pengendalian temperatur beton. Pada bendungan beton berukuran sangat besar, panas yang dihasilkan selama proses hidrasi semen dapat menimbulkan perbedaan temperatur dan meningkatkan risiko retak. Karena itu, proyek Jinping-I menerapkan sistem pengendalian temperatur dan monitoring secara otomatis untuk menjaga kualitas beton selama konstruksi.
Nurek Dam di Tajikistan memiliki tinggi sekitar 300 meter dan merupakan bendungan embankment/rockfill dengan inti kedap air. Bendungan ini dibangun di Sungai Vakhsh dan memiliki reservoir berkapasitas sekitar 10,5 km³. Selain menghasilkan listrik, reservoir Nurek juga mendukung kebutuhan irigasi sekitar 70.000 hektare.
Tantangannya tidak hanya terletak pada pembangunan struktur setinggi 300 meter. Lokasinya berada di kawasan yang memiliki aktivitas seismik tinggi, sehingga desain dan konstruksi harus mempertimbangkan stabilitas bendungan, kondisi fondasi, rembesan, serta ketahanan terhadap gempa. World Bank mencatat bahwa bendungan Nurek menggunakan sistem grout curtain pada fondasi untuk membantu mengendalikan rembesan melalui batuan yang memiliki banyak rekahan.
Xiaowan Dam berada di Sungai Lancang, Yunnan, China, dan memiliki tinggi sekitar 292 meter. Bendungan ini menggunakan struktur double-curvature arch dam dengan panjang sekitar 902 meter dan mendukung pembangkit listrik berkapasitas sekitar 4.200 MW.
Konstruksi bendungan setinggi ini membutuhkan pemahaman yang sangat detail terhadap hubungan antara struktur dan batuan di sekitarnya. Studi mengenai Xiaowan menunjukkan bahwa penyimpanan air pada reservoir dapat mengubah kondisi rembesan dan distribusi tegangan pada batuan fondasi maupun abutment. Karena itu, foundation treatment, seepage control, dan monitoring geoteknik menjadi bagian penting dari keselamatan struktur.
Baihetan Dam di Sungai Jinsha, China, memiliki tinggi sekitar 289 meter dan selesai dibangun pada 2021. Bendungan ini merupakan bagian dari sistem pembangkit listrik tenaga air besar di Sungai Jinsha dan memiliki kapasitas pembangkit sekitar 16.000 MW.
Skala proyek seperti Baihetan membutuhkan pengendalian konstruksi yang sangat presisi. Pembangunan bendungan beton dalam skala besar harus memperhatikan kualitas material, temperatur beton, kestabilan struktur, kondisi fondasi, serta proses pengalihan aliran sungai selama konstruksi. Di luar struktur utama, proyek bendungan juga membutuhkan berbagai fasilitas pendukung seperti terowongan, sistem pengelak sungai, powerhouse, jalan akses, dan sistem monitoring.
Xiluodu Dam memiliki tinggi sekitar 285,5 meter dan merupakan bendungan double-curvature arch dam di Sungai Jinsha, China. Bendungan ini mendukung pembangkit listrik dengan kapasitas sekitar 13.860 MW dan memiliki reservoir yang memanjang sekitar 204 kilometer di sepanjang aliran Sungai Jinsha.
Salah satu tantangan penting pada proyek ini adalah kondisi tektonik dan geologi di sekitarnya. Xiluodu berada di kawasan yang dipengaruhi beberapa zona sesar, sehingga pemantauan kondisi reservoir dan aktivitas seismik menjadi bagian penting dari pengelolaan keselamatan bendungan. Penelitian juga menunjukkan adanya perubahan kondisi hidromekanika dan aktivitas seismik regional setelah proses pengisian reservoir.
Kelima proyek tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan dam construction tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar volume beton atau seberapa tinggi struktur dapat dibangun. Faktor seperti kondisi geologi, karakteristik sungai, tekanan air, stabilitas fondasi, temperatur beton, risiko gempa, sistem pengalihan aliran, hingga monitoring jangka panjang harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah dampak pembangunan terhadap kawasan di sekitarnya. Pembangunan bendungan dapat memengaruhi pola aliran sungai, ekosistem perairan, penggunaan lahan, sedimentasi, hingga masyarakat yang berada di kawasan terdampak. Karena itu, proyek infrastruktur air berskala besar membutuhkan pendekatan yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial.
RAKTA mendukung pembangunan infrastruktur melalui pendekatan engineering dan konstruksi yang terintegrasi, dengan mempertimbangkan aspek teknis, keselamatan, fungsi bangunan, serta keberlanjutan proyek. Dengan perencanaan dan pelaksanaan yang tepat, infrastruktur air dapat dibangun untuk memberikan manfaat jangka panjang sekaligus mengelola berbagai risiko yang muncul selama siklus proyek.